Logo DSU
BEBelajar Tanpa Batas: Meneladani Imam Syafi'i Dalam Menumbuhkan Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat
Kisah Inspiratif

BEBelajar Tanpa Batas: Meneladani Imam Syafi'i Dalam Menumbuhkan Generasi Pembelajar Sepanjang Hayat

Tim DSU · 16 Okt 2026 · 3 menit baca

Pernahkah kita berpikir bahwa belajar hanya menjadi urusan anak-anak di sekolah atau mahasiswa di kampus? Setelah lulus dan memasuki dunia kerja, sebagian orang merasa proses belajar telah selesai. Padahal, kehidupan terus berubah dan selalu menghadirkan hal-hal baru yang perlu kita pahami. Belajar bukan sekadar untuk mendapatkan nilai atau ijazah, melainkan proses memperbaiki diri yang berlangsung sepanjang hayat.
Dalam sejarah Islam, Imam Syafi’i merupakan salah satu teladan dalam kesungguhan menuntut ilmu. Sejak muda, beliau menunjukkan ketekunan dalam belajar, berguru kepada para ulama, dan memperluas pengetahuannya. Perjalanan keilmuan beliau mengajarkan bahwa ilmu membutuhkan kesungguhan, kedisiplinan, kesabaran, dan kerendahan hati. Semakin banyak seseorang belajar, seharusnya semakin ia menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.
Meneladani Imam Syafi’i bukan berarti kita harus menjadi ulama besar, melainkan menumbuhkan semangat untuk tidak pernah berhenti belajar. Seorang pelajar yang rajin membaca, orang tua yang terus memperbaiki pola pengasuhan, dan pekerja yang meningkatkan keterampilannya sama-sama sedang menjalani proses belajar sepanjang hayat.
Upaya menumbuhkan generasi pembelajar tidak dapat dibebankan kepada sekolah saja. Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam membentuk kebiasaan belajar. Anak tidak hanya belajar dari nasihat orang tua, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari. Ketika orang tua gemar membaca, terbuka terhadap pengetahuan baru, dan tidak malu mengakui kesalahan, anak akan belajar bahwa mencari ilmu merupakan bagian penting dari kehidupan.
Sekolah dan Orang Tua juga perlu menciptakan lingkungan yang menghargai rasa ingin tahu, keberanian bertanya, dan kemauan memperbaiki kesalahan. Di tengah derasnya arus informasi digital, generasi muda perlu dibekali kemampuan berpikir kritis, memeriksa kebenaran informasi, dan bersikap terbuka terhadap pengetahuan baru.
Dalam Islam, semangat belajar ditegaskan melalui doa dalam QS. Taha ayat 114: “Rabbi zidnii 'ilmaa”, yang berarti, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.” Doa ini mengingatkan kita bahwa selalu ada ruang untuk menambah pengetahuan dan memperbaiki diri. Namun, ilmu tidak cukup hanya disimpan dalam pikiran; ilmu harus tercermin dalam akhlak, tindakan, dan manfaat bagi sesama.
Menumbuhkan generasi pembelajar sepanjang hayat dapat dimulai dari kebiasaan sederhana: membaca setiap hari, berdiskusi, belajar dari pengalaman, berani bertanya, dan bersedia menerima nasihat. Kita tidak harus mengetahui segala hal, tetapi perlu memiliki kemauan untuk terus bertumbuh.
Pada akhirnya, meneladani Imam Syafi’i berarti menghidupkan kecintaan terhadap ilmu dalam kehidupan sehari-hari. Generasi pembelajar lahir dari keluarga yang memberi teladan, sekolah yang menumbuhkan rasa ingin tahu, dan masyarakat yang menghargai proses belajar.
Sebab, belajar bukan hanya untuk hari ini atau demi memperoleh ijazah, melainkan untuk menjalani kehidupan dengan lebih baik dan memberikan manfaat yang lebih luas. Selama hayat masih dikandung badan, selalu ada kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi lebih bermanfaat bagi sesama.